Konser ‘Black Myth: Wukong’ di LA: Panggung Besar Budaya China Mengguncang Industri Game Global

E-Sports
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Konser ‘Black Myth: Wukong’ di LA: Panggung Besar Budaya China Mengguncang Industri Game Global
BAGIKAN:

Los Angeles – Pada Selasa (7/7) malam, Peacock Theater dipenuhi ribuan penonton yang menyaksikan orkestra megah menafsirkan soundtrack game asal China, Black Myth: Wukong. Konser yang diproduksi oleh Game Science ini bukan sekadar pertunjukan musik; ia menjadi arena pertempuran budaya, pemasaran, dan ambisi geopolitik yang melintasi batas negara.

Berbeda dengan konser tradisional yang menampilkan komposisi orkestra Barat, pertunjukan ini menggabungkan simfoni klasik dengan instrumen rakyat Tiongkok—erhu, guzheng, dan pipa—serta vokal Mandarin yang dibawakan oleh penyanyi asal China bersama Hollywood Film Music Orchestra. Hasilnya, sebuah kolaborasi yang menonjolkan estetika Timur sekaligus menyesuaikan selera penonton Barat.

Game Black Myth: Wukong, yang terinspirasi dari novel klasik Journey to the West, diluncurkan pada Agustus 2024 dan sejak itu mengklaim penjualan lebih dari 10 juta kopi serta puncak 3 juta pemain bersamaan di semua platform. Klaim tersebut, meski menggiurkan, belum diverifikasi secara independen. Angka-angka ini menimbulkan pertanyaan: apakah data penjualan dan concurrent player tersebut merupakan hasil audit yang transparan atau sekadar strategi pemasaran untuk menumbuhkan hype di pasar yang semakin kompetitif?

Tur konser global yang dimulai dengan 39 pertunjukan di 19 kota China pada 2024‑2025 kini meluas ke lebih dari 12 kota internasional, termasuk New York, Singapura, Bangkok, dan Los Angeles. Langkah ini jelas merupakan upaya memperluas soft power China melalui media hiburan. Seperti yang diungkapkan oleh Andy Nice, desainer seni berbasis LA, "musik dan arsitektur panggung memunculkan citra Buddha, kuil, dan mitologi China yang memancing rasa ingin tahu penonton Barat untuk mengeksplorasi budaya tersebut."

Namun, di balik pujian, ada kritik yang tak boleh diabaikan. Pertama, dominasi platform streaming dan distribusi game Barat dapat menjadi pintu masuk bagi konten yang dikurasi secara ketat, menyingkirkan narasi alternatif yang tidak sejalan dengan agenda politik atau ekonomi China. Kedua, penggunaan orkestra Hollywood sebagai “pembungkus” musik tradisional dapat menimbulkan dilema autentisitas: apakah penonton benar‑benar mendengar budaya China atau sekadar versi yang telah di‑Western‑kan?

Steven He, YouTuber lokal yang telah memainkan game tersebut selama dua tahun, menyatakan konser itu "menghidupkan kembali adegan‑adegan ikonik" dan memberi inspirasi. Namun, bagi sebagian penonton, pengalaman tersebut terasa seperti "panggung propaganda budaya" yang dibalut kemewahan produksi. Li Jiaqi, produser audio game, menegaskan bahwa tur ini berfungsi sebagai "jembatan" antara audiens global dan budaya China. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan etis: apakah jembatan tersebut bersifat dua‑arah atau hanya mengalirkan satu narasi ke luar?

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat fenomena ini sebagai bagian dari strategi China yang lebih luas untuk menancapkan jejaknya dalam industri kreatif global. Menggunakan game sebagai vektor, negara tersebut tidak hanya menjual produk hiburan, melainkan juga menanamkan nilai‑nilai budaya yang dapat mempengaruhi persepsi publik di luar negeri. Konser‑konser seperti ini berfungsi sebagai soft power yang lebih halus dibandingkan diplomasi tradisional, karena ia menyasar emosi dan identitas generasi muda yang menjadi konsumen utama.

Selanjutnya, klaim penjualan dan pemain simultan yang belum terverifikasi menandakan perlunya transparansi data dalam industri game. Tanpa audit independen, angka‑angka tersebut dapat menjadi alat propaganda yang menipu investor, media, dan konsumen. Pemerintah dan regulator di negara‑negara penerima harus menuntut keterbukaan, terutama bila produk tersebut memperoleh dukungan finansial atau kebijakan khusus.

Terakhir, kolaborasi antara orkestra Barat dan musik tradisional China menimbulkan dilema budaya. Sementara sinergi ini dapat memperkaya pengalaman artistik, ada risiko menghilangkan keaslian suara asli. Penonton Barat harus kritis terhadap apa yang mereka konsumsi: apakah mereka menyaksikan budaya China yang otentik atau sekadar versi yang telah di‑filter melalui lensa Hollywood?

Jika tren ini terus berlanjut, kita dapat menyaksikan peningkatan jumlah acara serupa, tidak hanya dalam game tetapi juga film, drama, dan seni visual. Dampaknya akan terasa pada cara industri hiburan global menilai nilai budaya, serta pada kebijakan perdagangan budaya antarnegara. Bagi Indonesia, peluang ini bisa menjadi panggilan untuk mengembangkan konten lokal yang mampu bersaing di panggung dunia tanpa mengorbankan identitas budaya kita.