Kementan Produksi 4 Juta Bibit Kopi Arabica Gayo 3 untuk Pemulihan Sektor Perkebunan di Aceh Tengah

Ekonomi
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Kementan Produksi 4 Juta Bibit Kopi Arabica Gayo 3 untuk Pemulihan Sektor Perkebunan di Aceh Tengah
BAGIKAN:

Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) telah memproduksi sebanyak empat juta bibit Kopi Arabica Gayo 3 di Takengon, Aceh Tengah. Bibit ini dipersiapkan untuk mendukung pemulihan sektor perkebunan pascabencana hidrometeorologi di daerah tersebut.

Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, menyampaikan terima kasih kepada Menteri Pertanian dan jajaran Kementerian Pertanian atas dukungan pengembangan kopi Arabika Gayo di Aceh Tengah. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ke lokasi penangkaran pembibitan kopi Arabika Gayo 3 di SMK Negeri 2 Aceh Tengah menunjukkan pertumbuhan vegetatif bibit yang sangat baik.

Bibit Arabika Gayo 3 telah memenuhi kondisi yang siap untuk ditanam di lapangan dan saat ini menunggu proses sertifikasi dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Aceh sebelum didistribusikan kepada masyarakat. Proses penyaluran dilakukan tepat sasaran kepada petani yang telah terdata dan tergabung dalam kelompok tani penerima manfaat sesuai ketentuan program.

Menurut Bupati Haili Yoga, kebutuhan bibit kopi di Dataran Tinggi Gayo sangat tinggi setiap tahunnya. Program ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan Aceh Tengah sebagai salah satu sentra penghasil kopi Arabika terbaik di dunia.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah, Sabrin, menjelaskan bahwa proses penyaluran bibit direncanakan mulai dilaksanakan pada bulan Agustus 2026 setelah sertifikasi benih selesai diterbitkan oleh BPSB Provinsi Aceh.

Sebagai jurnalis senior investigasi, saya melihat bahwa upaya Kementan dalam memproduksi bibit kopi Arabica Gayo 3 ini merupakan langkah positif dalam mendukung pemulihan sektor perkebunan di Aceh Tengah. Namun, perlu diawasi agar proses penyaluran bibit dapat dilakukan secara transparan dan tepat sasaran kepada petani yang membutuhkan.